Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Ketika seorang pencari ilmu menelusuri deretan kitab ilmu hikmah di rak-rak toko, di pajangan marketplace, atau di tangan-tangan para kolektor antik — sebuah pertanyaan yang jarang terucap namun selalu menghantui pikiran yang mendalam adalah: apakah yang saya pegang ini masih utuh? Pertanyaan itu bukan tanpa alasan. Samsul Ma'arif Qubro — karya monumental yang selama berabad-abad menjadi rujukan utama para ulama, ahli hikmah, dan para salikin — kini beredar dalam puluhan versi terjemahan di pasaran. Namun di antara sekian banyak yang beredar itu, hanya segelintir yang benar-benar setia pada naskah aslinya. Banyak yang dipotong. Banyak yang diubah. Banyak bagian yang dianggap "terlalu berat" lalu dibuang tanpa menyadari bahwa justru di situlah letak kunci dari keseluruhan pemahaman sebuah bab. Kami hadirkan Samsul Ma'arif Qubro Juz 1 dalam terjemahan bahasa Indonesia yang dikerjakan dengan satu prinsip tunggal: kesetiaan total pada teks asli. Tidak ada satu pun bagian yang dihilangkan, tidak ada satu pun redaksi yang dimodifikasi demi "kemudahan" semu. Apa yang ada di naskah asli, itulah yang hadir di halaman-halaman terjemahan ini — kata demi kata, makna demi makna. Mengapa hal ini begitu penting? Karena Samsul Ma'arif bukan sekadar kumpulan amalan yang bisa dipetik secara acak lalu diamalkan secara terpisah. Ini adalah sebuah sistem keilmuan yang utuh — di mana satu bab terhubung secara organis dengan bab berikutnya, satu amalan menjadi prasyarat bagi amalan setelahnya, dan satu penjelasan di awal juz menjadi kunci pemahaman bagi bab-bab yang tampak berdiri sendiri di bagian akhir. Memotong satu bagian berarti memutus rantai pemahaman tersebut. Dan itulah yang selama ini terjadi pada kebanyakan terjemahan yang beredar di pasaran — para pembaca mendapat potongan-potongan, tanpa pernah tahu bahwa puzzle-nya tidak akan pernah utuh. Para ulama terdahulu menulis ulang, mengutip, dan menaqwilkan ilmu dari kitab ini ke dalam puluhan kitab turunan yang kemudian tersebar luas di Nusantara. Artinya, ketika seseorang mengamalkan ilmu hikmah dari hampir mana pun sumbernya, ada kemungkinan besar akar ilmu tersebut bermuara ke sini. Menguasai sumbernya berarti memahami akar dari sekian banyak cabang keilmuan yang tersebar — bukan sekadar mengamalkan, tetapi memahami mengapa sebuah amalan disusun dengan cara tertentu, mengapa ada syarat-syarat yang harus dipenuhi, dan mengapa urutan dalam kitab ini tidak bisa diacak sembarangan. Kami tidak perlu menjelaskan apa itu Samsul Ma'arif kepada Anda yang membaca ini. Anda sudah tahu. Yang perlu kami sampaikan hanyalah satu hal: terjemahan ini tidak berkompromi. Ada harga, ada kualitas. Dalam dunia ilmu, ungkapan itu bukan sekadar jargon dagangan — ini tentang sejauh mana sebuah karya bersedia mempertahankan keutuhannya meski itu berarti proses penerjemahan yang jauh lebih berat, lebih teliti, dan lebih memakan waktu dibanding sekadar menyederhanakan teks agar laris di pasaran. Untuk saudara yang telah lama mencari terjemahan Samsul Ma'arif yang benar-benar sejajar dengan teks aslinya — bukan versi yang telah disederhanakan, dibersihkan, atau disesuaikan dengan selera pasar — inilah yang selama ini saudara cari. Temukan kami di YouTube untuk diskusi lebih lanjut seputar keilmuan ini.

Terima kasih atas kepercayaan Anda. Semoga bermanfaat dan membawa keberkahan.

šŸ”„ Stok Terbatas!

Pesan sekarang sebelum kehabisan — ini bukan terjemahan biasa.

šŸ›’ BELI SEKARANG DI TOKO KAMI